17 Agustus 2009

Ketika negeriku semakin tua…

(… Catatan ini kutulis untuk negeriku tercinta, sebab daku hanya bisa menulis (dulu saja) bagimu, semoga kelak bukan jadi No Action Talk Only, dan dedicated to all of my facebook-friends who born at August, yg ternyata hampir memenuhi list of my Social Calender this month…happy birthday for you all ,,, )

64 tahun sudah…jika negara ini adalah seseorang, maka tentunya dia sudah lumayan senja meski belum pantas disebut sepuh, dan kita adalah berpredikat sebagai cucu, mungkin anak, tapi sepertinya bukanlah sebaya. Jika negeri ini adalah seorang kakek/nenek, atau opa/oma, atau apalah namanya, sebagai cucu, sepantasnya kita menaruh hormat pada beliau. Pun jika ia adalah bertaraf ayah/ibu, papa/mama, papi/mami, ambo’/indo’, babe/nyak or whatever the name is, sebagai anak, maka penghormatan pun tentu saja masih merupakan haknya.

Semarak hawa perayaannya yang menyeruak di segala penjuru, di perkantoran, di senayan (hmm… berapa meter kain merah putih yang dipakai tuk membungkus seluruh pagar “rumah para wakil rakyat yang terhormat” ini ya..), di gang, di pos ronda, di pasar tradisional pun di pusat perbelanjaan, di jalan raya, (kalau di Makassar dulu pernah ada aturan bahwasanya setiap mobil harus pake bendera kecil yang melambai2 di kaca spion / anywhere, apa sekarang masih demikiankah?), dan menyelusup dalam berbagai perlombaan, yang diikuti oleh segenap khalayak mulai dari batita sampai manula…

64 tahun sudah status merdeka itu ada dalam genggaman. Dahulu kala, pilihannya mungkin hanya dua : Merdeka atau Mati. Dan meskipun “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” (apakah tulisan kutipan ini perlu diberi footnote …?? Halah… yg lagi sibuk berurusan dgn footnote.. wkkkk…) namun tak disangsikan lagi bahwa penjajahan memang masih ada di muka bumi, meski dengan modus ‘terselubung’ sebab dijaga oleh para peri…

(hwa… makin gak mudheng ini…..)

Tapi kata siapa kita belum merdeka, tokh sekarang ini dgn segenap kebebasan kita bisa menulis, berbicara, berlaku sepuasnya, meski kadang ada yang bablas menerobos saja apa yang dinamakan norma dan etika berperilaku, bahkan dengan saena’e dhewe for breaking the rule, hanya takut pada sanksi semata, atau klo ada yg berkenaan tuk negur… itu juga klo si aparatnya berani negor…

(plis deh… klo ada tanda Dilarang Merokok, jgn merokok ya… kasian donk ama manusia lain di sekitar…. But the Best is : mau ada larangan or not, pikirkanlah orang2 lain di sekeliling… teteup dah…)

Back to the main issue ---> (merdeka atau mati)

Apabila kita sebagai cucu / anak yang baik, maka pantas sajakah tuk menghujat, mencaci maki, negara yang sudah tua ini, karena tidak memberi kita apa yang kita inginkan? Maka terselip dimana dahulu kata2 “jangan tanya apa yang diberikan negara untukmu, tapi tanya apa yang telah kau beri tuk negaramu” (lupa siapa yang punya kalimat) ? Tersembunyi dimana semangat kepahlawanan orang2 yang telah mendahului kita (hening cipta… dimulai hihi…) jika yang kita bisa lakukan kini hanya mencerca, menghina dina, segala kebobrokan yang ada, dengan justru menambah hal yang tidak benar itu dengan ketidakbenaran yang baru ?

Come on, be realistic lah…

Jika kita senantiasa menuntut hak dulu baru kewajiban, maka yang bernama lingkaran kesetimbangan alam itu akan senantiasa berputar mundur ke belakang. Jika yang bisa kita bilang hanya berkata “hal itu tidak benar” tanpa memberi solusi yang benar itu apa, atau bagaimana .. pfpfpf….

Para abdi negara, yang melakukan pekerjaan sebagai suatu keharusan, bukannya keinginan, (ppsst… tokh rajin or not… bakal terima gaji juga….. but saya yakin kok, yang ada di friendlistku tak demikian…), maka dimana lagi kalimat “kerja adalah cinta, yang ngejawantah” (siapa itu…> Gibran ya_)..???

Orang2 sakit, yang menginginkan pengobatan gratis, hem… wahai…… , Apa yang mereka lakukan untuk menjaga diri agar tidak sakit? Menciptakan pola dalam alam bawah sadar mereka bahwa “tak apa jika saya sakit sebab berobatnya bisa gratis”
Orang2 bersekolah, yang ingin pendidikan gratis, wahai …. Apa yang mereka lakukan agar para guru tak mesti bersusah payah untuk mencerdaskan mereka? Apakah mereka belajar? Hwa… just segelintir…

Dllsb … masih banyak kok yang bisa kita lakukan, selain hanya menggerutui negara ini, men’tidak-syukuri segala nikmat ini sebab kita tinggal di Indonesia dan menjadi bagian dari Indonesia Tanah Air Beta tercinta ini … (for my International friend, so sorry for your inconvenience hihi..). ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Fhfhfh….. kok jadi emosi nih… cukup mengeluarkan energi juga nih, jadi hipoglikemi….
Sudah ah… capek… ngedumel sendiri nih…
Last but not least, mumpung semangat heroik-nya masih membara, hanya mau berkata, bahwasanya apapun yang diberikan negara kepadamu, maka terimalah yang merupakan hakmu ATAU apapun yang kau ambil dari negaramu (beda kan ya?) ---- simpankan orang lain downk.. (hihi)

Rehatnya usai… mari kita menyanyikan sebuah lagu, yang senantiasa jadi pengiring siaran semut di kala stasiun televisi dahulu cuma satu …
PADAMU NEGERI… KAMI BERJANJI
PADAMU NEGERI… KAMI BERBAKTI
PADAMU NEGERI… KAMI MENGABDI
BAGIMU NEGERI… JIWA RAGA … KAMI ….
MERDEKA…….!!!!!
(maka mari kita mengerjakan tesis kembali … hikz..hikz…)